Tanda-Tanda Fi’il (Terjemah at Tuhfah as Saniyah)

Bab tanda-tanda fi’il (Kitab at Tuhfah as Saniyah Syarah Muqodimah al Ajurumiyah)


وَالۡفِعۡلُ يُعۡرَفُ بِقَدۡ وَالسِّينِ وَسَوۡفَ وَتَاءِ التَّأۡنِيثِ السَّاكِنَةِ

Fi’il dikenali dengan (قَدۡ), huruf (س), (سَوۡفَ) dan huruf ta` ta`nits sukun (تْ)

وَأَقُولُ: يَتَمَيَّزُ الْفِعْلُ عَنْ أَخَوَيْهِ: الْإِسْمِ وَالْحَرْفِ بِأَرْبَعِ عَلَامَاتٍ؛ مَتَى وَجَدْتَ فِيهِ وَاحِدَةً مِنْهَا أَوْ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَقْبَلُهَا عَرَفْتَ أَنَّهُ فِعْلٌ

Saya (Pengarang kitab) berkata : Kalimat Fi’il (kata kerja) dibedakan dari dua saudaranya yaitu kalimat isim dan kalimat huruf dengan empat tanda. Kapanpun engkau mendapatkan (pada sebuah kata) salah satu dari empat tanda di atas, atau engkau berpandangan bahwa kata itu dapat menerima tanda tersebut, maka engkau sudah bisa mengenali bahwasannya kata itu adalah kalimat fi’il.

الْأُولَى: قَدْ، وَالثَّانِيَةُ: السِّينُ، وَالثَّالِثَةُ: سَوْفَ، وَالرَّابِعَةُ: تَاءُ التَّأْنِيثِ السَّاكِنَةُ

Tanda Pertama adalah di awali oleh (قد), Ke dua : di awali oleh huruf sin (س), Ke tiga : di awali oleh (سوف), dan yang Ke empat : (bersambung dengan) ta’ ta’nits sukun (تْ).

أَمَّا (قَدْ)فَتَدْخُلُ عَلَى نَوْعَيْنِ مِنَ الْفِعْلِ، وَهُمَا: الْمَاضِي، وَالْمُضَارِعُ. فَإِذَا دَخَلَتْ عَلَى الْفِعْلِ الْمَاضِي دَلَّتْ عَلَى أَحَدِ مَعْنَيَيْنِ -وَهُمَا التَّحْقِيقُ وَالتَّقْرِيبُ- فَمِثَالُ دَلَالَتِهَا عَلَى التَّحْقِيقِ قَوْلُهُ تَعَالَى: (قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ) وَقَوْلُهُ جَلَّ شَأْنُهُ: (لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ) وَقَوْلُنَا: (قَدْ حَضَرَ مُحَمَّدٌ) وَقَوْلُنَا: (قَدْ سَافَرَ خَالِدٌ) وَمِثَالُ دَلَالَتِهَا عَلَى التَّقْرِيبِ قَوْلُ مُقِيمِ الصَّلَاةِ: (قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ) وَقَوْلُكَ: (قَدْ غَرَبَتِ الشَّمْسُ)

Adapun قَدْ, ia dapat masuk pada dua jenis kalimat fi’il yaitu fi’il madhi dan fi’il mudhari’.

Ketika (قَدْ) masuk kepada fi’il madhi, maka ia menunjukkan pada salah satu dari dua makna, yaitu at tahqiq (penegasan; sungguh) dan at taqrib (kedekatan waktu; hampir). Contoh yang menunjukkan at tahqiq adalah firman Allah ta’ala :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Sungguh beruntung orang-orang mukmin.” (QS. Al Mu’minun : 1)

Dan firmanNya Jalla sya`nuhu :

لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ

Sungguh Allah  telah meridhoi orang-orang mukmin.” (QS. Al Fath : 18)

dan ucapan kita :

قَدْ حَضَرَ مُحَمَّدٌ

Muhammad sungguh telah hadir.

قَدْ سَافَرَ خَالِدٌ

Khalid sungguh telah besafar.

Adapun contoh yang menunjukkan makna at taqrib adalah seperti ucapan orang yang mengumandangkan iqamah untuk shalat :

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ

Shalat hampir ditegakkan. dan ucapanmu :

قَدْ غَرَبَتِ الشَّمْسُ

Matahari hampir tenggelam.

وَإِذَا دَخَلَتْ عَلَى الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ دَلَّتْ عَلَى أَحَدِ مَعْنَيَيْنِ أَيْضًا -وَهُمَا التَّقْلِيلُ وَالتَّكْثِيرُ- فَأَمَّا دَلَالَتُهَا عَلَى التَّقْلِيلِ، فَنَحْوُ ذَلِكَ: (قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوبُ) وَقَوْلُكَ: (قَدْ يَجُودُ الْبَخِيلُ) وَقَوْلُكَ: (قَدْ يَنْجَحُ الْبَلِيدُ). وَأَمَّا دَلَالَتُهَا عَلَى التَّكْثِيرِ؛ فَنَحْوُ قَوْلِكَ: (قَدْ يَنَالُ الْمُجْتَهِدُ بُغْيَتَهُ) وَقَوْلُكَ: (قَدْ يَفْعَلُ التَّقِيُّ الْخَيْرَ) وَقَوْلُ الشَّاعِرِ: قَدْ يُدْرِكُ الْمُتَأَنِّي بَعْضَ حَاجَتِهِ وَقَدْ يَكُونُ مَعَ الْمُسْتَعْجِلِ الزَّلَلُ

Adapun ketika (قَدْ) masuk pada fi’il mudhari’, maka ia juga menunjukkan salah satu dari dua makna, yaitu at taqlil (jarang / kadang-kadang) dan at taktsir (sering). Contoh yang menunjukkan at taqlil seperti :

قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوبُ

Pendusta terkadang jujur

قَدْ يَجُودُ الْبَخِيلُ

Orang kikir terkadang berderma

قَدْ يَنْجَحُ الْبَلِيدُ

Orang bodoh terkadang berhasil

Adapun contoh yang menunjukkan makna at taktsir adalah seperti :

قَدْ يَنَالُ الْمُجْتَهِدُ بُغْيَتَهُ

Orang yang bersungguh-sungguh sering mendapatkan cita-citanya

قَدْ يَفْعَلُ التَّقِيُّ الْخَيْرَ

Orang yang bertaqwa sering berbuat kebaikan.
dan ucapan penyair :

قَدْ يُدْرِكُ الْمُتَأَنِّي بَعْضَ حَاجَتِهِ وَقَدْ يَكُونُ مَعَ الْمُسْتَعْجِلِ الزَّلَلُ

Orang yang teliti (tidak tergesa-gesa) sering mendapatkan sebagian kebutuhannya, Dan ketergelinciran seringnya bersama orang yang tergesa-gesa.

وَأَمَّا السِّينُ وَسَوْفَ: فَيَدْخُلَانِ عَلَى الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ وَحْدَهُ، وَهُمَا يَدُلَّانِ  عَلَى التَّنْفِيسِ، وَمَعْنَاهُ الْإِسْتِقْبَالُ، إِلَّا أَنَّ (السِّينَ) أَقَلُّ اسْتِقْبَالًا مِنْ (سَوْفَ). فَأَمَّا السِّينُ فَنَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: (سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ)، (سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ) وَأَمَّا (سَوْفَ) فَنَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: (وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى)، (سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا)، (سَوْفَ يَؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ)

Adapun huruf sin (س) dan (سَوْفَ), keduanya hanya masuk pada fi’il mudhari’ saja. Dan keduanya menunjukkan makna at tanfis yang berarti al istiqbal (akan). Hanya saja huruf sin (س) lebih pendek masa akan datangnya daripada (سَوْفَ). Contoh huruf sin (س) adalah firman Allah ta’ala :

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ

“Orang-orang bodoh di antara manusia itu akan berkata…” (QS. Al Baqarah : 142)

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ

“Orang-orang yang tertinggal akan mengatakan kepadamu…” (QS. Al Fath : 11). Adapun contoh dari (سَوْفَ) adalah seperti firman Allah ta’ala :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

“Dan kelak Rabbmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu kamu menjadi puas.” (QS. Adh Dhuha : 5)

سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا

“Kelak kami akan masukkan mereka ke dalam neraka.” (QS. An Nisa’ : 56)

سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ

“Kelak Dia akan memberikan mereka pahala-pahala mereka.” (QS. An Nisa’ : 152)

وَأَمَّا تَاءُ التَّأْنِيثِ السَّاكِنَةُ: فَتَدْخُلُ عَلَى الْفِعْلِ الْمَاضِي دُونَ غَيْرِهِ؛ وَالْغَرَضُ مِنْهَا الدَّلَالَةُ عَلَى أَنَّ الْإِسْمَ الَّذِي أُسْنِدَ هَذَا الْفِعْلُ إِلَيْهِ مُؤَنَّثٌ؛ سَوَاءٌ أَكَانَ فَاعِلًا، نَحْوُ (قَالَتْ عَائِشَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ) أَمْ كَانَ نَائِبَ فَاعِلٍ، نَحْوُ (فُرِشَتْ دَارُنَا بِالْبُسُطِ)

Adapun huruf ta` ta`nits yang bersukun hanya masuk pada fi’il madhi saja, tidak pada selainnya. Tujuan huruf ini adalah menunjukkan bahwa isim yang disandarkan pada fi’il madhi ini adalah muannats.  Baik ia berkedudukan sebagai  Fa’il, seperti :

قَالَتْ عَائِشَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ

‘Aisyah Ummul mu`minin telah berkata.
atau berupa Naibul fa’il, seperti :

فُرِشَتْ دَارُنَا بِالْبُسُطِ

Rumah kami dihampari oleh permadani-permadani.

وَالْمُرَادُ أَنَّهَا سَاكِنَةٌ فِي أَصْلِ وَضْعِهَا؛ فَلَا يَضُرُّ تَحْرِيكَهَا لِعَارِضِ التَّخَلُّصِ مِنْ إِلْتِقَاءِ السَاكِنَيْنِ فِي نَحْوِ قَوْلِهِ تَعَالَى: (قَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ)، (إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ)، (قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ)

Adapun yang di maksud ta` (ت) itu bersukun adalah bahwa asal peletakannya seperti itu. Sehingga mengubah harokatnya untuk menghindari pertemuan dua sukun. tidak akan menjadi masalah. Seperti firman Allah ta’ala :

قَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ

“Dia (istri al Azizi) berkata : Keluarlah, nampakkan dirimu kepada mereka.” (QS. Yusuf : 31)

إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَ ٰ⁠نَ

“(Ingatlah) ketika Istri Imron berkata …” (QS. Ali Imron : 35)

قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Keduanya (langit dan bumi) menjawab,”kami datang dengan suka hati.” (QS. Fushilat : 11)

وَمِمَّا تَقَدَّمَ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّ عَلَامَاتِ الْفِعْلِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُؤَلِّفُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ قِسْمٌ يَخْتَصُّ بِالدُّخُولِ عَلَى الْمَاضِي، وَهُوَ تَاءُ التَّأْنِيثِ السَّاكِنَةُ، وَقِسْمٌ يَخْتَصُّ بِالدُّخُولِ عَلَى الْمُضَارِعِ، وَهُوَ السِّينُ وَسَوْفَ، وَقِسْمٌ يَشْتَرِكُ بَيْنَهُمَا، وَهُوَ قَدْ

Dari penjelasan di atas, jelas bagimu bahwa tanda-tanda fi’il yang di sebutkan oleh pengarang kitab itu terbagi menjadi tiga bagian. Satu bagian, hanya khusus masuk pada fi’il madhi, yaitu ta` ta`nits bersukun (تْ). Satu bagian lagi, hanya khusus masuk pada fi’il mudhari’, yaitu huruf sin (س) dan (سَوْفَ). Dan Satu bagian terakhir dapat masuk pada fi’il madhi dan juga fi’il mudhari’, yaitu (قَدْ).

وَقَدْ تَرَكَ عَلَامَةَ فِعْلِ الْأَمْرِ، وَهِيَ دَلَالَتُهُ عَلَى الطَّلَبِ مَعَ قَبُولِهِ يَاءَ الْمُخَاطَبَةِ أَوْ نُونَ التَّوْكِيدِ، نَحْوُ (قُمْ) وَ (اقْعُدْ) وَ (اكْتُبْ) وَ (انْظُرْ) فَإِنَّ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَ دَالَّةٌ عَلَى طَلَبِ حُصُولِ الْقِيَامِ وَالْقُعُودِ وَالْكِتَابَةِ وَالنَّظْرِ، مَعَ قَبُولِهَا يَاءَ الْمُخَاطَبَةِ فِي نَحْوِ (قُومِي) و (اقْعُدِي) أَوْ مَعَ قَبُولِهَا نُونَ التَّوْكِيدِ فِي نَحْوِ (اكْتُبَنَّ وَانْظُرَنَّ إِلَى مَا يَنْفَعُكَ)

Dan beliau (pengarang kitab) melewatkan, tidak menyebutkan tanda untuk fi’il amr. Yang tandanya itu adalah kata yang menunjukkan kepada permintaan dan ia dapat menerima huruf ya`mukhathabah atau nun taukid. Contohnya :

قُمْ (berdirilah)
اقْعُدْ (duduklah)
اكْتُبْ ( tulislah)
انْظُرْ ( lihatlah)

Ke empat kata tersebut menunjukkan permintaan agar ditunaikan perbuatan berdiri, duduk, menulis, dan melihat. Bersamaan itu juga, ke empat kata tersebut dapat menerima huruf ya` muannats mukhathabah, seperti :

قُومِي (berdirilah kamu perempuan)

اقْعُدِي (duduklah kamu perempuan)

Atau dapat juga menerima nun taukid, seperti :

اكْتُبَنَّ

Tulislah dengan sebenar-benarnya.

انْظُرَنَّ إِلَى مَا يَنْفَعُكَ

Perhatikanlah dengan cermat apa yang mendatangkan manfaat bagimu.

Leave a Response