Tanda Jazem Dengan Sukun

وَلِلْجَزْمِ عَلَامَتَانِ: السُّكُونُ وَالْحَذْفُ

I’rab Jazm memiliki dua tanda, yaitu sukun dan hadzf (penghapusan).

وَأَقُولُ: يُمْكِنُكَ أَنْ تَحْكُمَ عَلَى الْكَلِمَةِ بِأَنَّهَا مَجْزُومَةٌ إِذَا وَجَدْتَ فِيهَا وَاحِدًا مِنْ أَمْرَيْنِ؛ الْأَوَّلُ: السُّكُونُ، وَهُوَ الْعَلَامَةُ الْأَصْلِيَّةُ لِلْجَزْمِ، وَالثَّانِي: الْحَذْفُ، وَهُوَ الْعَلَامَةُ الْفَرْعِيَّةُ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ هَاتَيْنِ الْعَلَامَتَيْنِ مَوَاضِعُ سَنَذْكُرُهَا لَكَ فِيمَا يَلِي

Saya (mushonnif) berkata : Anda bisa menghukumi suatu kata itu di i’rob jazm jika anda mendapati padanya salah satu dari dua perkara. Pertama, sukun. Dan sukun adalah tanda asli untuk i’rob jazm. Kedua, al-hadzf (penghapusan). Dan al hadzf (penghapusan) ini adalah tanda cabang. Setiap salah satu dari dua tanda ini memiliki tempat-tempat yang akan kita sebutkan pada pembahasan berikutnya.

فَأَمَّا السُّكُونُ فَيَكُونُ عَلَامَةً لِلْجَزْمِ فِي الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ الصَّحِيحِ الْآخِرِ

Adapun sukun menjadi tanda untuk i’rob jazm pada fi’il mudhari’ shahih akhir.

وَأَقُولُ: لِلسُّكُونِ مَوْضِعٌ وَاحِدٌ يَكُونُ فِيهِ عَلَامَةً عَلَى أَنَّ الْكَلِمَةَ مَجْزُومَةٌ، وَهَذَا الْمَوْضِعُ هُوَ الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ الصَّحِيحُ الْآخِرُ، وَمَعْنَى كَوْنِهِ صَحِيحَ الْآخِرِ أَنَّ آخِرَهُ لَيْسَ حَرْفًا مِنْ حُرُوفِ الْعِلَّةِ الثَّلَاثَةِ الَّتِي هِيَ الْأَلِفُ وَالْوَاوُ وَالْيَاءُ.

Saya (Mushonnif) berkata : Adapun sukun memiliki satu tempat yang menjadi tanda bahwa kata tersebut di i’rob jazm. Tempat itu adalah fi’il mudhari’ shahih akhir. Makna shahih akhir adalah bahwa akhiran katanya bukan salah satu dari tiga huruf ‘illah yaitu alif, wawu, dan ya’.

وَمِثَالُ الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ الصَّحِيحِ الْآخِرِ (يَلْعَبُ، وَيَنْجَحُ، وَيُسَافِرُ، وَيَعِدُ، وَيَسْأَلُ) فَإِذَا قُلْتَ: (لَمْ يَلْعَبْ عَلِيٌّ) وَ (لَمْ يَنْجَحْ بَلِيدٌ) وَ (لَمْ يُسَافِرْ أَخُوكَ) وَ (لَمْ يَعِدْ إِبْرَاهِيمُ خَالِدًا بِشَيْءٍ) وَ (لَمْ يَسْأَلْ بَكْرٌ الْأُسْتَاذَ) فَكُلٌّ مِنْ هَذِهِ الْأَفْعَالِ مَجْزُومٌ، لِسَبْقِ حَرْفِ الْجَزْمِ الَّذِي هُوَ (لَمْ) عَلَيْهِ، وَعَلَامَةُ جَزْمِهِ السُّكُونُ، وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَفْعَالِ فِعْلٌ مُضَارِعٌ صَحِيحُ الْآخِرِ.

Contoh fi’il mudhari’ shahih akhir:

يَلْعَبُ,  يَنْجَحُ , يُسَافِرُ , يَعِدُ , يَسْأَلُ

Maka jika engkau ucapkan:

لَمْ يَلْعَبْ عَلِيٌّ

Ali tidak sedang bermain

لَمْ يَنْجَحْ بَلِيدٌ

Orang bodoh tidak akan sukses

لَمْ يُسَافِرْ أَخُوكَ

Saudaramu belum bersafar

لَمْ يَعِدْ إِبْرَاهِيمُ خَالِدًا بِشَيْءٍ

Ibrahim tidak berjanji apapun kepada kholid

لَمْ يَسْأَلْ بَكْرٌ الْأُسْتَاذَ

Bakr tidak bertanya kepada ustadz

Maka setiap fi’il-fi’il tersebut sedang di i’rob jazm, karena didahului oleh huruf jazm (لَمْ). Adapun tanda jazmnya adalah sukun. Dan setiap fi’il-fi’il tersebut adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (fi’il yang tidak di akhiri huruf-huruf illah).

Leave a Response