Kisah Sang Teladan

Di kisahkan oleh Sufyan bin ‘Uyainah. Kisah teladan dari seorang cucu Kholifah Umar bin Khothob radhiyallohu ‘anhu yang bernama Salim bin Abdullah bin Umar, beliau pada zamannya terkenal sebagai ulama yang faqih dan periwayat hadits ternama, beliau juga sangat disegani oleh pemerintahan tatkala itu, karena beliau telah banyak membantu menyelesaikan permasalahan ummat.

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah ta’ala bercerita، ” suatu ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik masuk ke dalam Ka’bah. Di dalamnya, beliau bertemu Salim bin Abdullah bin Umar.

Khalifah berkata,

يا سالمُ، سلني حاجةً

Wahai Salim, mintalah sesuatu kepadaku.

Salim menjawab,

إني لأستحيي من الله أن أسأل في بيت الله غير الله

Aku malu kepada Allah, jika aku meminta sesuatu kepada selain-Nya, padahal aku sedang berada di baitullah (rumah-Nya Allah).

Ketika Salim keluar, sang khalifah mengikutinya, kemudian berkata,

ألآن قد خرجتَ فسَلْني حاجة

Sekarang engkau telah keluar, maka mintalah sesuatu kepadaku!

Salim menjawab,

حوائج الدنيا أم من حوائج الآخرة؟

Kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?

Sang khalifah menjawab,

بل من حوائج الدنيا

Tentu Kebutuhan dunia.

Salim pun menimpali,

ما سألت من يملكها، فكيف أسأل من لا يملكها

Aku sendiri tidak meminta dunia kepada pemiliknya (Allah), bagamana mungkin aku memintanya kepada orang yang bukan pemiliknya?. (Sifatus shafwah, hlm. 323)

Begitulah potret para salafus sholih terdahulu, Mereka tidak begitu sering meminta dunia kepada Allah karena mereka paham bahwa dunia itu tidak lebih baik dari akhirat :

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

sedang kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. [QS. al-A’la : 16-17].

Mereka tidak meminta dunia, karena mereka paham bahwa kebutuhan dunianya sudah dijamin oleh Sang Pemberi rizki lagi Maha Adil :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُها

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya (Allah lah yg menjamin rizkinya). (QS. Hud : 6)

Mereka tidak tamak pada dunia, karena
Mereka paham bahwa dunia itu hina , bahkan kehinaanya jauh lebih hina dari bangkai hewan yg cacat.

فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Demi Allâh, dunia itu lebih hina di sisi Allâh daripada seekor bangkai kambing yg cacat ini bagi kalian”. [HR Muslim, no. 2957].

Mereka tidak terlalu mengejar dunia, karena
Mereka paham kenikmatan dunia itu hanya sedikit dibanding kenikmatan akhirat, Allah ta’ala berfirman :

فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) dengan kenikmatan di akhirat itu hanyalah sedikit. [QS. at-Taubah : 38].

Rosulullah saw juga bersabda : Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini -perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim, no. 2858].

Air sisa yang menempel pada jari itulah permisalan kenikmatan dunia beserta isinya, sedangkan air laut yang begitu luas, itulah permisalan kenikmatan akhirat. Sungguh amat jauh sekali perbandingan antar keduanya.

Dari sini kita menjadi paham, bahwa yang seharusnya menjadi kegundahan hati kita, bukanlah ketika harta kita itu sedikit, atau rumah dan kendaraan kita itu jelek, melainkan selayaknya kita gundah ketika amal kita belum layak diganjar dengan surganya, demikian pula kita layak bersedih ketika amal ibadah kita masih bolong- bolong, dan belum sebaik Para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sebab amal kitalah yang akan menjadi penentu kebahagian kita di akhirat kelak.

Ada satu nasehat berharga dari Sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berkata.

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَة، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلا حِسَاب، وَغَداً حِسَابٌ وَلا عَمَل

“Kehidupan dunia berangsur pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat kian mendekat mendatangi kita, dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki para pendamba.

Maka jadilah kalian pendamba-pedamba akhirat, dan janganlah kalian menjadi pendamba-pedamba dunia.

Karena sejatinya sekarang ini (di dunia) adalah waktu untuk beramal bukan waktu dihisabnya amal, sementara besok (di akhirat) adalah waktu hisab (hari perhitungan) dan bukan waktu untuk beramal.” [Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Baththal 10/149]

Semoga Allah senantiasa memberi hidayah dan kemudahan kepada kita untuk terus beramal sholih serta menjauhkan diri kita dari sifat tamak dunia yang melalaikan dari tujuan utama hidup yaitu beribadah dan beramal sholih. Amiin…

Leave a Response