Bab Al Kalam (Terjemah At Tuhfah As Saniyah)

Bab Kalam (Kitab At Tuhfah As Saniyah Syarah Muqodimah Al Ajurumiyah)

قَالَ: الۡكَلَامُ هُوَ اللَّفۡظُ الۡمُرَكَّبُ الۡمُفِيدُ بِالۡوَضۡعِ

Mushonnif al Ajurumiyah berkata : Al-Kalam adalah lafadz yang tersusun serta memberi faidah dengan bahasa (pengucapan) yang di letakkan oleh orang arab.

.وَأَقُولُ: لِلَفْظِ الْكَلَامِ مَعْنَيَانِ: أَحَدُهُمَا لُغَوِيٌّ، وَالثَّانِي نَحْوِيٌّ
أَمَّا الْكَلَامُ اللُّغَوِيُّ فَهُوَ عِبَارَةٌ عَمَّا تَحْصُلُ بِسَبَبِهِ فَائِدَةٌ، سَوَاءٌ أَكَانَ لَفْظًا، أَمْ لَمْ يَكُنْ كَالْخَطِّ وَالْكِتَابَةِ وَالْإِشَارَةِ
وَأَمَّا الْكَلَامُ النَّحْوِيُّ، فَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ أَرْبَعَةُ أُمُورٍ: الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ لَفْظًا، وَالثَّانِي أَنْ يَكُونَ مُرَكَّبًا، وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ مُفِيدًا، وَالرَّابِعُ أَنْ يَكُونَ مَوْضُوعًا بِالْوَضْعِ الْعَرَبِيِّ

Saya (Mushonnif at Tuhfah as Saniyah) berkata : Lafadz kalam mempunyai dua makna: Pertama, makna secara bahasa dan ke dua, makna secara ilmu nahwu.

Adapun kalam secara bahasa adalah Suatu ungkapan yang dengan sebabnya dapat menghasilkan suatu faidah, baik berupa lafadz atau tidak, seperti coretan, tulisan dan isyarat.

Adapun kalam secara ilmu nahwu, harus terkumpul empat perkara:
Pertama harus berupa lafadz, ke dua harus murakkab (tersusun dari dua kata atau lebih), ke tiga harus memberi faidah, dan Ke empat harus sesuai dengan bahasa (pengucapan) yang di letakkan oleh orang Arab.

وَمَعْنَى كَوْنِهِ لَفْظًا: أَنْ يَكُونَ صَوْتًا مُشْتَمِلًا عَلَى بَعْضِ الْحُرُوفِ الْهِجَائِيَّةِ الَّتِي تَبْتَدِىءُ بِالْأَلِفِ وَتَنْتَهِى بِالْيَاءِ وَمِثَالُهُ (أَحْمَد) وَ (يَكْتُبُ) وَ (سَعِيدٌ)؛ فَإِنَّ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ الثَّلَاثِ عِنْدَ النُّطْقِ بِهَا تَكُونُ صَوْتًا مُشْتَمِلًا عَلَى أَرْبَعَةِ أَحْرُفٍ هِجَائِيَّةٍ: فَالْإِشَارَةُ مَثَلًا لَا تُسَمَّى كَلَامًا عِنْدَ النَّحْوِيِّينَ؛ لِعَدَمِ كَوْنِهَا صَوْتًا مُشْتَمِلًا عَلَى بَعْضِ الْحُرُوفِ، وَإِنْ كَانَتْ تُسَمَّى عِنْدَ اللُّغَوِيِّينَ كَلَامًا؛ لِحُصُولِ الْفَائِدَةِ بِهَا

Makna bahwa kalam harus berupa lafadz adalah harus berupa suara yang mengandung sebagian huruf hijaiyyah, yang dimulai dari huruf alif dan diakhiri dengan huruf ya`. Contohnnya :

أَحْمَدُ، يَكْتُبُ، سَعِيْدٌ

Setiap dari tiga kata di atas ketika diucapkan menjadi suara yang mengandung empat huruf hijaiyyah. Adapun isyarat tidak dinamakan kalam menurut ahli nahwu, karena isyarat bukan berupa suara yang mengandung sebagian huruf-huruf hijaiyyah. Meskipun oleh ahli bahasa dia tetap dinamakan kalam karena bisa memberikan faidah (dapat dipahami).

وَمَعْنَى كَوْنِهِ مُرَكَّبًا: أَنْ يَكُونَ مُؤَلَّفًا مِنْ كَلِمَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ، نَحْوُ: (مُحَمَّدٌ مُسَافِرٌ) وَ (الْعِلْمُ نَافِعٌ) وَ (يَبْلُغُ الْمُجْتَهِدُ الْمَجْدَ) وَ (لِكُلِّ مُجْتَهِدٍ نَصِيبٌ) وَ (الْعِلْمُ خَيْرُ مَا تَسْعَى إِلَيْهِ) فَكُلُّ عِبَارَةٍ مِنْ هَذِهِ الْعِبَارَاتِ تُسَمَّى كَلَامًا، وَكُلُّ عِبَارَةٍ مِنْهَا مُؤَلَّفَةٌ مِنْ كَلِمَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ، فَالْكَلِمَةُ الْوَاحِدَةُ لَا تُسَمَّى كَلَامًا عِنْدَ النُّحَاةِ إِلَّا إِذَا انْضَمَّ غَيْرُهَا إِلَيْهَا: سَوَاءٌ أَكَانَ إِنْضِمَامُ غَيْرِهَا إِلَيْهَا حَقِيقَةً كَالْأَمْثِلَةِ السَّابِقَةِ، أَمْ تَقْدِيرًا، كَمَا إِذَا قَالَ لَكَ قَائِلٌ: مَنْ أَخُوكَ؟ فَتَقُولُ: مُحَمَّدٌ، فَهَذِهِ الْكَلِمَةُ تُعْتَبَرُ كَلَامًا، لِأَنَّ التَّقْدِيرَ: مُحَمَّدٌ أَخِي: فَهِيَ فِي التَّقْدِيرِ عِبَارَةٌ مُؤَلَّفَةٌ مِنْ ثَلَاثِ كَلِمَاتٍ

Makna bahwa kalam harus Murakkab (tersusun) adalah Ia harus tersusun dari dua kata atau lebih. Contohnya :

مُحَمَّدٌ مُسَافِرٌ

(Muhammad adalah seorang musafir)

الْعِلْمُ نَافِعٌ

(Ilmu itu bermanfaat)

يَبْلُغُ الْمُجْتَهِدُ الْمَجْدَ

(Orang yang bersungguh-sungguh akan mencapai kemuliaan)

لِكُلِّ مُجْتَهِدٍ نَصِيبٌ

(Setiap orang yang bersungguh-sungguh akan memperoleh hasil)

الْعِلْمُ خَيْرُ مَا تَسْعَى إِلَيْهِ

(Ilmu adalah sebaik-baik perkara yang kamu usahakan (untuk meraihnya)

Setiap ungkapan di atas disebut kalam. Dan Setiap ungkapan di atas juga tersusun dari dua kata atau lebih.

Adapun satu kata tidak bisa disebut kalam menurut ahli nahwu, kecuali jika kata itu digabungkan dengan kata lain. Baik penggabungannya bersifat hakiki seperti contoh-contoh yang telah lalu, atau bersifat taqdiri (perkiraan, yaitu terdapat kata lain yang menyertainya yang tidak ditampakkan, namun dapat diperkirakan). Contohnya : Sebagaimana jika ada yang berkata kepadamu:

مَنْ أَخُوكَ ؟

(Siapa saudara laki-laki mu ?)

Lalu engkau jawab: (مُحَمَّدٌ) Maka kata ini dianggap kalam, karena perkiraannya:

مُحَمَّدٌ أَخِي

(Muhammad adalah saudara laki-laki ku)

Sehingga kata diatas dalam bentuk taqdiran (perkiraan)nya merupakan ungkapan yang tersusun dari tiga kata.

وَمَعْنَى كَوْنِهِ مُفِيدًا: أَنْ يَحْسُنَ سُكُوتُ الْمُتَكَلِّمِ عَلَيْهِ، بِحَيْثُ لَا يَبْقَى السَّامِعُ مُنْتَظِرًا لِشَيْءٍ آخَرَ، فَلَوْ قُلْتَ: (إِذَا حَضَرَ الْأُسْتَاذُ) لَا يُسَمَّى ذَلِكَ كَلَامًا، وَلَوْ أَنَّهُ لَفْظٌ مُرَكَّبٌ مِنْ ثَلَاثِ كَلِمَاتٍ؛ لِأَنَّ الْمُخَاطَبَ يَنْتَظِرُ مَا تَقُولُهُ بَعْدَ هَذَا مِمَّا يَتَرَتَّبُ عَلَى حُضُورِ الْأُسْتَاذِ. فَإِذَا قُلْتَ: (إِذَا حَضَرَ الْأُسْتَاذُ أَنْصَتَ التَّلَامِيذُ) صَارَ كَلَامًا لِحُصُولِ الْفَائِدَةِ

Makna bahwa kalam itu harus memberi faidah adalah bahwa si pembicara akan diam sempurna (tidak menjelaskan lagi kalam tersebut), sekiranya orang yang mendengar kalam tersebut tidak akan menunggu-nunggu ucapan selanjutnya (dari si pembicara).

Sehingga jika engkau mengatakan:

إِذَا حَضَرَ الْأُسْتَاذُ

(Apabila ustadz telah hadir)

maka tidak dinamakan kalam, meskipun ia merupakan lafazh yang tersusun dari tiga kata. Sebab orang yang diajak bicara masih menunggu-nunggu apa yang akan engkau katakan selanjutnya, yaitu perkataan berupa konsekwensi dari kehadiran ustadz.

Sehingga jika engkau katakan:

إِذَا حَضَرَ الْأُسْتَاذُ أَنْصَتَ التَّلَامِيذُ

(Apabila ustadz telah hadir, para murid pun terdiam)

Maka perkataan ini menjadi kalam sebab memberikan faidah (si pendengar paham, tidak menunggu perkataan selanjutnya dari si pembicara).

وَمَعْنَى كَوْنِهِ مَوْضُوعًا بِالْوَضْعِ الْعَرَبِيِّ: أَنْ تَكُونَ الْأَلْفَاظُ الْمُسْتَعْمَلَةُ فِي الْكَلَامِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي وَضَعَتْهَا الْعَرَبُ لِلدَّلَالَةِ عَلَى مَعْنًى مِنَ الْمَعَانِي: مَثَلًا (حَضَرَ) كَلِمَةٌ وَضَعَهَا الْعَرَبُ لِمَعْنًى، وَهُوَ حُصُولُ الْحُضُورِ فِي الزَّمَانِ الْمَاضِي، وَكَلِمَةُ (مُحَمَّد) قَدْ وَضَعَهَا الْعَرَبُ لِمَعْنًى، وَهُوَ ذَاتُ الشَّخْصِ الْمُسَمَّى بِهَذَا الْإِسْمِ، فَإِذَا قُلْتَ: (حَضَرَ مُحَمَّدٌ) تَكُونُ قَدِ اسْتَعْمَلْتَ كَلِمَتَيْنِ كُلٌّ مِنْهُمَا مِمَّا وَضَعَهُ الْعَرَبُ، بِخِلَافِ مَا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِكَلَامٍ مِمَّا وَضَعَهُ الْعَجَمُ: كَالْفَرَسِ، وَالتُّرْكِ، وَالْبَرْبَرِ، وَالْفَرَنْجِ، فَإِنَّهُ لَا يُسَمَّى فِي عُرْفِ عُلَمَاءِ الْعَرَبِيَّةِ كَلَامًا، وَإِنْ سَمَّاهُ أَهْلُ اللُّغَةِ الْأُخْرَى كَلَامًا

Adapun makna harus sesuai dengan bahasa (pengucapan) yang diletakkan oleh orang Arab adalah bahwa lafadz-lafadz yang digunakan dalam pembicaraan harus berupa lafadz-lafadz yang dipakai orang Arab untuk menunjukkan suatu makna tertentu. Misalnya kata ( حَضَرَ ), kata ini adalah sebuah kata yang digunakan orang Arab untuk menunjukkan suatu makna, yaitu terjadinya kehadiran pada masa lampau. Kemudian Kata ( مُحَمَّد ), kata ini dipakai orang Arab untuk suatu makna, yaitu orang yang dinamakan dengan nama itu. Maka jika engkau katakan: ( حَضَرَ مُحَمَّدٌ) maka engkau telah menggunakan dua kata yang masing-masingnya telah digunakan oleh orang Arab.

Berbeda jika engkau berbicara dengan menggunakan bahasa orang ‘ajam (selain Arab), seperti orang Persia, Turki, Barbar, atau Prancis. Maka ucapan itu tidak dinamakan kalam oleh Ahli Bahasa Arab, meskipun oleh ahli bahasa lainnya dinamakan kalam.

: أَمْثِلَةٌ لِلْكَلَامِ الْمُسْتَوْفَى الشُّرُوطِ
الْجَوُّ صَحْوٌ. الْبُسْتَانُ مُثْمِرٌ. الْهِلَالُ سَاطِعٌ. السَّمَاءُ صَافِيَةٌ. يُضِيءُ الْقَمَرُ لَيْلًا. يَنْجَحُ الْمُجْتَهِدُ. لَا يُفْلِحُ الْكَسُولُ. لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ. مُحَمَّدٌ صَفْوَةُ الْمُرْسَلِينَ. اللهُ رَبُّنَا. مُحَمَّدٌ نَبِيُّنََا

أَمْثِلَةٌ لِلَفْظِ الْمُفْرَدِ : مُحَمَّدٌ. عَلِيٌّ. إِبْرَاهِيمُ. قَامَ. مِنْ
أَمْثِلَةٌ لِلْمُرَكَّبِ غَيْرِ الْمُفِيدِ : مَدِينَةُ الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ. عَبْدُ اللهِ. حَضْرَمَوْتُ. لَوْ أَنْصَفَ النَّاسُ. إِذَا جَاءَ الشِّتَاءُ. مَهْمَا أَخْفَى الْمُرَائِي. إِنْ طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Contoh kalam yang memenuhi persyaratan:

(Cuaca itu cerah) الْجَوُّ صَحْوٌ

(Kebun itu berbuah) الْبُسْتَانُ مُثْمِرٌ

(Bulan sabit itu bersinar) الْهِلَالُ سَاطِعٌ

(Langit itu jernih) السَّمَاءُ صَافِيَةٌ

(Bulan itu menerangi malam) يُضِيءُ الْقَمَرُ لَيْلًا

يَنْجَحُ الْمُجْتَهِدُ

(Orang yang bersungguh-sungguh itu akan sukses)

لَا يُفْلِحُ الْكَسُولُ

(Orang yang malas tidak akan berhasil)

لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ

(Tidak ada sesembahan (yang hak) selain Allah)

مُحَمَّدٌ صَفْوَةُ الْمُرْسَلِينَ

(Muhammad adalah Rasul pilihan)

(Allah adalah Rabb kami) اللهُ رَبُّنَا

(Muhammad adalah Nabi kami) مُحَمَّدٌ نَبِيُّنَا

Adapun Contoh lafadz tunggal adalah

.مُحَمَّدٌ. عَلِيٌّ. إِبْرَاهِيمُ. قَامَ. مِنْ

Sedangkan contoh lafadz-lafadz yang tersusun atas dua katau atau lebih, namun tidak memberikan faidah (kepemahaman) yang sempurna adalah :

(Kota Iskandarsyah) مَدِينَةُ الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ

(Hamba Allah) عَبْدُ اللهِ

(Hadramaut) حَضْرَمَوْتُ

(Jika manusia adil) لَوْ أَنْصَفَ النَّاسُ

(Jika musim dingin datang) إِذَا جَاءَ الشِّتَاءُ

مَهْمَا أَخْفَى الْمُرَائِي

(Bagaimanapun orang riya’ menyembunyikan perbuatan riya’ nya)

. (Jika matahari terbit) إِنْ طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Leave a Response